• 9849-xxx-xxx
  • smkskesehatan.bireuen94@gmail.com
  • Geulanggang Teungoh, Kota Juang, Kab. Bireuen, Aceh

Isu Terbaru Dalam Keperawatan Keluarga

 

Isu Terbaru Dalam Keperawatan Keluarga

Menurut Friedman dkk (2013,hal. 41-42), terhadap literatur dan diskusi profesional dengan kolega di bidang keperawatan keluarga terdapat 8 isu penting dalam keperawatan keluarga saat ini:

Isu Praktik Keperawatan

a. Kesenjangan bermakna antara teori dan penelitian serta praktik klinis.

        Kesenjangan antara pengetahuan yang ada dan penerapan pengetahuan ini jelas merupakan masalah di semua bidang dan spesialisasi di keperawatan, meskipun kesenjangan ini lebih tinggi di keperawatan keluarga. Keperawatan yang berpusat pada keluarga juga masih dinyatakan ideal dibanding praktik yang umum dilakukan. Wright dan Leahey mengatakan bahwa faktor terpenting yang menciptakan kesenjangan ini adalah cara perawat menjabarkan konsep masalah sehat dan sakit. Hal ini merupakan kemampuan “berfikir saling mempengaruhi”: dari tingkat individu menjadi tingkat keluarga (saling memengaruhi).

        Penulis lain yaitu Bowden dkk menyoroti bahwa kecenderungan teknologi dan ekonomi seperti pengurangan layanan dan staf, keragaman dalam populasi klien yang lebih besar. Sedangkan menurut Hanson kurangnya alat pengkajian keluarga yang komperehensif dan strategi intervensi yang baik, perawat terikat dengan model kedokteran (berorientasi pada individu dan penyakit), dan sistem pemetaan yang kita lakukan serta sistem diagnostik keperawatan menyebabkan penerapan perawatan yang berfokus pada keluarga sulit diwujudkan.

b. Kebutuhan untuk membuat perawatan keluarga menjadi lebih mudah untuk diintegrasikan dalam praktik.

Dalam beberapa tahun ini, terjadi restrukturisasi pelayanan kesehatan besar-besaran, yang mencakup perkembangan pesat sistem pengelolaan perawatan berupa sistem pemberian layanan kesehatan yang kompleks, multi unit, dan multi level sedang dibentuk. Sebagian dari restrukturisasi ini juga termasuk kecenderungan pasien dipulangkan dalam “keadaan kurang sehat dan lebih cepat” dan pengurangan jumlah rumah sakit, pelayanan dan staf, serta pertumbuhan pelayanan berbasis komunitas. Perubahan ini menyebabkan peningkatan tekanan kerja dan kelebihan beban kerja dalam profesi keperawatan. Waktu kerja perawat dengan klien individu dan klien keluarga menjadi berkurang. Oleh karena itu, mengembangkan cara yang bijak dan efektif untuk mengintegrasikan keluarga ke dalam asuhan keperawatan merupakan kewajiban perawat keluarga. Menurut Wright dan Leahey, mengatasi kebutuhan ini dengan menyusun wawancara keluarga selama 15 menit atau kurang. Pencetusan gagasan dan strategi penghematan waktu yang realistik guna mempraktikan keperawatan keluarga adalah isu utama praktik dewasa ini.

c. Peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan kepada keluarga.

Berdasarkan pembincangan dengan perawat dan tulisan yang disusun oleh perawat keluarga, terdapat kesepakatan umum bahwa peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan ke pasien atau keluarga perlu dilakukan.

Menurut Wright dan Leahey dalam Robinson, mengingatkan kita bahwa terdapat kebutuhan akan kesetaraan yang lebih besar dalam hubungan antara perawat dan keluarga, hubungan kolaboratif yang lebih baik, dan pemahaman yang lebih baik akan keahlian keluarga. Perkembangan penggunaan Internet dan email telah memberikan banyak keluarga informasi yang dibutuhkan untuk belajar mengenai masalah kesehatan dan pilihan terapi mereka. Gerakan konsumen telah memengaruhi pasien dan keluarga untuk melihat diri mereka sebagai konsumen, yang membeli dan mendaptkan layanan kesehatan seperti layanan lain yang mereka beli. Dilihat dari kecenderungan ini, anggota keluarga sebaiknya diberikan kebebasan untuk memutuskan apa yang  baik bagi mereka dan apa yang mereka lakukan demi kepentingan mereka sendiri.

d. Bagaimana bekerja lebih efektif dengan keluarga yang kebudayaannya beragam.

Kemungkinan, isu ini lebih banyak mendapatkan perhatian di kalangan penyedia pelayanan kesehatan, termasuk perawat, dibandingkan isu lainnya pada saat ini.

Kita tinggal di masyarakat yang beragam, yang memiliki banyak cara untuk menerima dan merasakan dunia, khusunya keadaan sehat dan sakit. Dalam pengertian yang lebuh luas, budaya (termasuk etnisitas, latarbelakang agama, kelas sosial, afiliasi regional dan politis, orientasi seksual, jenis kelamin, perbedaan generasi) membentuk persepsi kita, nilai, kepercayaan, dan praktik.

Faktor lainnya, seperti pengalaman sehat dan sakit, membentuk cara kita memandang sesuatu. Meskipun terdapat semua upaya tersebut guna dapat bekerja lebih efektif dengan keluarga yang beragam, memberikan perawatan yang kompeten secara budaya tetap menjadi tantangan yang terus dihadapi.

e. Globalisasi keperawatan keluarga menyuguhkan kesempatan baru yang menarik bagi perawat keluarga.

Dengan makin kecilnya dunia akibat proses yang dikenal sebagai globalisasi, perawat keluarga disuguhkan dengan kesempatan baru dan menarik utnuk belajar mengenai intervensi serta program yang telah diterapkan oleh negara lain guna memberikan perawatan yang lebih baik bagi keluarga.

Globalisasi adalah proses bersatunya individu dan keluarga karena ikatan ekonomi, politis, dan profesional. Globalisasi mempunyai dampak negatif yang bermakna bagi kesehatan yaitu ancaman epidemi diseluruh dunia seperti HIV/AIDS menjadi jauh lebih besar. Akan tetapi sisi positifnya, pembelajaran yang diperoleh perawat amerika dari perawat di seluruh dunia melalui konferensi internasional, perjalanan, dan membaca literatur kesehatan internasional memberikan pemahaman yang bermanfaat. Sebagai contoh, di Jepang, pertumbuhan keperawatan keluarga sangat mengesankan. Di sana, perawat telah mengembangkan kurikulum keperawatan keluarga di sekolah keperawatan dan telah menghasilkan teori keperawatan yang berfokus pada keluarga dan sesuai dengan nilai dan konteks Jepang.

Menurut Sugishita, keperawatan keluarga mengalami pertumbuhan yang pesat di Jepang, yang ditandai dengan publikasi dan upaya penelitian yang dilakukan di Jepang. Negara lain, seperti Denmark, Swedia, Israel, Korea, Chili, Meksiko, Skotlandia, dan Inggris juga mengalami kemajuan bermakna di bidang kesehatan keluarga dan keperawatan keluarga. Kita harus banyak berbagi dan belajar dari perawat di beberapa negara ini.

Isu Pendidikan Keperawatan

Menurut Hanson dan Heims, yang melaporkan sebuah survei pada sekolah keperawatan di Amerika Serikat yang mereka lakukan terkait cakupan keperawatan keluarga di sekolah tersebut, terdapat perkembangan pemaduan muatan keperawatan keluarga dan ketrampilan klinis ke dalam program keperawatan pascasarjana dan sarjana.

Masih belum jelas muatan apa yang tepat diberikan untuk program sarjana dan pascasarjana dan bagaimana cara mengajarkan ketrampilan klinis. Tidak ada kesepakatan mengenai fokus program sarjana dan pascasarjana terkait dengan keperawatan keluarga. Akan tetapi, terdapat beberapa konsensus bahwa praktik keperawatan tingkat lanjut pada keperawatan keluarga melibatkan pembelajaran muatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan seluruh keluarga dan individu anggota keluarga secara bersamaan.

Perawat keluarga dengan praktik tingkat lanjut dapat bekerja sebagai terapis keluarga pada keluarga yang bermasalah. Akan tetapi, masih belum jelas muatan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dalam keperawatan keluarga untuk para perawat yang dipersiapkan di program praktik tingkat lanjut lainnya (program perawat spesialis klinis dan praktisi). Bahasan lebih lanjut mengenai cakupan dan level muatan dan ketrampilan klinis perlu dilakukan.

Isu Penelitian Keperawatan

Di bidang keperawatan keluarga, perawat peneliti telah membahas hasil kesehatan dan peralihan keluarga yang terkait dengan kesehatan. Teori perkembangan, teori stres, koping, dan adaptasi, teori terapi keluarga, dan teori sistem telah banyak memandu penilitian para perawat penilti keluarga. Penelitian dilakukan lintas disiplin, yang menunjukkan bahwa “tidak ada satupun disiplin yang memiliki keluarga” menurut Gillis dan Knafl dalam Friedman dkk (2013, hal.42). Kelangkaan penelitian keperawatan yang nyata terletak di bidang studi intervensi. Menurut Knafl dalam Friedman dkk (2013, hal.42) kurangnya studi intervensi dalam keperawatan keluarga “mengejutkan.”

Menurut Janice Bell dalam editor journal of family nursing, dalam editorial “Wanted : Family Nursing Intervention,” mengeluhkan mengenai kurangnya naskah penelitian intervensi keperawatan yang ia terima untuk dikaji. Dengan tidak memadainya jumlah studi intervensi, kita mengalami kekurangan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk mendukung evikasi strategi dan program keperawatan keluarga. Selain itu, dibutuhkan penelitian keperawatan keluarga yang sebenarnya : sebagian besar penelitian keperawatan keluarga sebenarnya merupakan penelitian yang terkait dengan keluarga (yang berfokus pada anggota keluarga), bukan penelitian keluarga (yang berfokus pada seluruh keluarga sebagai sebuah unit).

Isu kebijakan

Kebutuhan akan lebih terlibatnya perawat keluarga dalam membentuk kebijakan yang memengaruhi keluarga.

Hanson, dalam bahasannya mengenai reformasi pelayanan kesehatan, mendesak perawat keluarga lebih terlibat di tiap level sistem politis guna menyokong isu keluarga. Kami setuju dengan beliau. Praktisnya, semua legislasi domestik yang dikeluarkan di tingkat lokal, negara bagian atau nasional mempunyai dampak pada keluarga. Sebagai advokat keluarga, kita perlu baik secara sendiri-sendiri maupun bersama menganalisis isu dan kebijakan yang tengah diusulkan dan membantu merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan dan regulasi yang positif. Mendukung calon dewan yang mendukung calon keluarga dan menjadi relawan untuk melayani komisi kesehatan dan komisi yang terkait dengan kesehatan dan dewan organisasi adalah jalan penting lain untuk “membuat suatu perbedaan”. Kita perlu mendukung keluarga agar mempunyai hak mendapatkan informasi, memahami hak dan pilihan mereka, serta lebih cakap dalam membela kepentingan meraka sendiri.

Peran Perawat Dalam Menyikapi Trend dan Isu

Dalam kemajuan teknologi ini seorang perawat mempunyai peran yang besar, baik di masyarakat maupun di rumah sakit. Peran perawat sebagai educator seperti memberikan informasi kepada klien mengenai tindakan yang akan diberikan. Juga sebagai care giver dalam memberikan layanan kesehatan menggunakan  dan memanfaatkan teknologi  telehealth guna mempermudah dan meningkatkan hasil kerja dalam memberikan layanan asuhan keperawatan.

Sebagai change agent teknologi sebelumnya perawat merupakan tenaga yang paling sering berhubungan dengan pasien oleh karena itu setiap sistem teknologi yang baru maka perawat harus mempu mengusai dan menerapkannya.

Perawat saat ini harus mampu mencari informasi terbaru mengenai dunia teknologi kesehatan agar tidak ketinggalan zaman. Dengan mempelajarinya maka kita akan mengetahui bagaimana cara mengoperasikan teknologi baru dan mampu memanfaatkannya di dunia kesehatan.

Peluang Keperawatan Memanfaatkan Trend dan Isu Tersebut Untuk Meningkatkan Pelayanan Keperawatan

Perawat perlu menyadari bahwa kesulitan dan beban keperawatan sangat banyak sehingga diperlukan secepat mungkin dalam merawat pasien khususnya pasien stroke. Telehealth merupakan salah satu sarana yang memungkinkan para profesional keperawatan/kesehatan mempunyai kemampuan untuk menawarkan layanan ini kepada keluarga dari kejauhan. Home telehealth bisa efektif dalam tidak hanya menilai kebutuhan perawatan kesehatan korban stroke dan keperawatan, tetapi juga dalam memberikan dukungan informasi dan emosional kepada mereka.

Kesiapan terhadap telehealth tampaknya tergantung pada:

  1. Keperawatan dan keamanan rumah;
  2. Waktu yang tepat layanan yang ditawarkan;
  3. Kebutuhan yang dirasakan untuk keperawatan;
  4. Tingkat beban keperawatan.

Metode beban keperawatan menilai, yang mungkin berguna dalam memprediksi kesiapan mereka terhadap layanan telehealth, telah tersedia. Penilaian kenyamanan klien dengan dan kepentingan dalam teknologi serta keterbatasan pendengaran dan visual juga mungkin penting dalam penerimaan dan penggunaan telehealth. Identifikasi potensial untuk penggunaan, kesiapan dan penerimaan telehealth sangat penting sebelum mengembangkan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program menggunakannya.

Perbedaan tingkat pengalaman dan harapan antara perawat dan keperawatan mungkin telah menyebabkan disparitas dengan kepuasan mereka dalam kinerja peralatan telehealth. Pelatihan perawat dan keperawatan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang tepat sesuai dengan teknologi dan membantu mereka untuk mencapai tingkat minimal kenyamanan dengan telehealth adalah penting untuk menggunakan dan keefektifannya.

Pelayanan keperawatan di masa ke depan akan memanfaatkan perkembangan tekhnologi informasi, misalnya mengaplikasikan telehealth. Telehelath dalam keperawatan bisa dikembangkan untuk digunakan dalam bidang pendidikan maupun bidang pelayanan keperawatan. Dalam bidang pelayanan keperawatan telehealth dapat membantu kegiatan asuhan keperawatan pada pasien di rumah atau dikenal dengan home care.

Dengan adanya kontribusi telehealth dalam pelayanan keperawatan di rumah atau homecare, akan banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan oleh pasien dan keluarga, perawat, instansi pelayanan kesehatan dan termasuk juga pemerintah dalam hal ini adalah Departemen Kesehatan.

Menurut hokum, Telehalth juga diperbolehkan jika perawat sudah mempunyai SIP atau SIPP, dalam PERMENKES RI No. HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktek perawat BAB I Pasal 1 nomor 3 dijelaskan bahwa Surat Izin Praktek Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk melakukan praktek keperawatan secara perorangan dan/atau berkelompok. BAB II Pasal 3 Nomor 1 dijelaskan setiap perawat yang menjalankan praktek wajib memiliki SIPP. Telehealth juga biasa digunakan untuk berkomunikasi antar petugas kesehatan dengan jarak jauh jika perawat tersebut belum memiliki pengalaman yang luas guna untuk memberikan diagnosa atau pemberian obat kepada pasien dengan benar.

Namun demikian untuk bisa mengaplikasikan telehealth dalam bidang keperawatan banyak sakali tantangan dan hambatannya misalnya : faktor biaya, sumberdaya manusia, kebijakan dan perilaku.

Penggunaan telehealth dalam keperawatan itu diperbolehkan, karena kita boleh menggunakan telehealth dalam berkomunikasi keperawatan jarak jauh. Karena untuk mempermudah berkomunikasi dan memberi asuhan keperawatan pasien dirumah (home care).

Dengan kemajuan teknologi di bidang keperawatan terutama telehealth maka beban kerja perawat akan berkurang, memangkas waktu dan biaya yang digunakan. Telehealth sangat besar peluangnya untuk diterapkan di Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas dan tidak memungkinkan jika dilakukan kunjungan rumah. Telehealth merupakan inovasi baru di dunia keperawatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Repubublik Indonesia dengan jumlah penderita stroke yang cukup tinggi.

Mengatasi Masalah Gizi Pada Remaja dan Dewasa

Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada remaja ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya. Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang.

Status gizi dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium maupun secara antropometri. Kekurangan kadar hemoglobin atau anemi ditentukan dengan pemeriksaan darah. Antropometri merupakan cara penentuan status gizi  yang paling mudah dan murah. Indeks Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi remaja.

Faktor yang mempengaruhi gizi pada remaja dan dewasa:

  1. Kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan tentang zat gizi
  2. Pekerjaan

Kebutuhan energi dan nutrisi dipengaruhi oleh usia reproduksi, tingkat aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan. Kekurangan nutrisi pada seorang yang mengalami anemia dan kurang berat badan lebih banyak akan melahirkan bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dibandingkan dengan wanita dengan usia reproduksi yang aman untuk hamil.

Remaja wanita 15-21 tahun kedudukannya sangat penting karena merupakan persiapan calon ibu. Keadaan kesehatan remaja, erat hubungannya dengan gizi. Kegemukan, kurang energi kronis dan anemia merupakan tiga masalah gizi pada usia ini.

Pubertas (aqil baligh) adalah suatu masa pematangan kapasitas reproduksi. Pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi, cepat lambatnya seseorang mengalami ubertas antara lain dipengaruhi oleh status gizi. Seorang anak yang gizinya baik akan lebih cepat mengalami masa pubertas, sebaliknya anak yang gizinya kurang baik akan terlambat akil baliknya. Menarche, tidak ada ketentuan secara tepat kapan mulai akan terjadi periode yang pertama kali, namun hal ini akan terjadi antara usia 10-14 tahun, tapi sedikit lebih awal atau lebi lambat tidak semua anak sama. Pada remaja energi dan protein dibutuhkan lebih banyak daripada orang dewasa, demikian pula vitamin dan mineral. Itamin B1, B2 dan B6 sangat penting untuk metabolisme karbohidrat menjadi energi. Demikian pula asam folat dan vitamin B12 untuk pembentukan sel darah merah dan vitamin A untuk pertumbuhan yang diperlukan oleh jaringan.

Masalah Gizi Pada Remaja

  1. Obesitas
  2. Kurang Energi Kronis
  3. Anemia
  4. Pendidikan Gizi Pada Remaja dan Dewasa

Pendidikan gizi pada remaja dan dewasa diperlukan untuk mencapai status gizi yang baik dan berperilaku gizi yang baik dan benar. Adapun pesan dasar gizi seimbang yang diuraikan oleh Depkes adalah :

  1. Makanlah aneka ragam makanan
  2. Makanlah makanan untuk mencukupi kecukupan energi
  3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi
  4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kecukupan gizi
  5. Gunakan garam beryodium
  6. Makanlah makanan sumber zat besi
  7. Berikanlah ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahya
  8. Biasakan makan pagi
  9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya
  10. Aman berarti bersih dan bebas kuman.
  11. Lakukan aktifitas fisik secara teratur
  12. Hindari minum minuman beralkohol
  13. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan

Penyebab Masalah Gizi pada Remaja

Pada usia sekolah, anak banyak mengikuti aktivitas, fisik maupun mental, seperti bermain, belajar, berolahraga. Zat gizi akan membantu meningkatkan kesehatan tubuh anak, sehingga sistem pertahanan tubuhnya pun baik dan tidak mudah terserang penyakit.

Anak usia sekolah membutuhkan lebih banyak energi dan zat gizi dibanding anak balita. Diperlukan tambahan energi, protein, kalsium, flour, zat besi, sebab pertumbuhan sedang pesat dan aktivitas kian bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, anak seusia ini membutuhkan 5 kali waktu makan, yaitu makan pagi (sarapan), makan siang, makan malam dan 2 kali makan selingan. Perlu ditekankan pentingnya sarapan supaya dapat berfikir dengan baik dan menghindari hipoglikemi. Bila jajan harus diperhatikan kebersihan makanan supaya tidak tertular penyakit tifoid, disentri dan lain-lain. Anak remaja putri yang sudah mulai haid, diperlukan tambahan zat besi.

Ketidaktahuan akan gizi yang benar pada usia remaja ataupun sekolah menyebabkan remaja tersebut sering berperilaku komsumsi  gizi yang salah. Berikut beberapa perilaku konsumsi gizi yang salah pada remaja / anak sekolah :

  1. Tidak mengkonsumsi menu gizi seimbang
  2. Kebiasaan tidak sarapan pagi
  3. Jajan tidak sehat disekolah/ dikampus
  4. Kurang mengonsumsi buah dan sayur
  5. Mengonsumsi Fast Food dan Junk Food
  6. Konsumsi  Gula Berlebihan
  7. Konsumsi Natrim Berlebihan
  8. Konsumsi Lemak Berlebihan
  9. Mengkonsumsi Makanan Beresiko

Untuk mencapai kesehatan yang optimal diperlukan makanan yang bukan sekedar makanan akan tetapi makanan yang mengandung gizi.

Masa remaja adalah masa yang sangat rentan, kadar hormon estrogen dan progesteron pada remaja serta hormon progesteron pada remaja pria berkembang pesat saat ini.

Untuk para remaja dan dewasa menjaga agar tubuh tetap sehat dan tidak mudah sakit maka mengkonsumsi makanan harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Terutama harus bisa mengkonsumsi gizi yang seimbang agar tubuh bisa tetap sehat. Untuk bidan seharusnya bisa mensosialisasikan pentingnya mengkonsumsi gizi yang seimbang kepada masyarakat khususnya remaja dan dewasa.

Oleh : Arni Wianti, S.Kep., Ns., M.Kes “stikesypib”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *